berita-online.com-NTT,-Setelah sukses membawa kontingen Sabu
Raijua dalam Festival Budaya Indonesia di Oslo, Norwegia, hari ini, Jumat
(5/7), Gubernur NTT membuka Kompetisi Sepak Bola El Tari Memorial Cup (ETMC).
Dalam sambutannya di Lapangan Betun Malaka, Viktor Bungtilu Laiskodat menyebut
pentingnya suguhan budaya dalam setiap kesempatan.
"Terima kasih kepada anak-anak yang sudah menari dengan sangat indah, menunjukkan kualitas sebuah peradaban. Ini bicara tentang peradaban, kualitas pelayanan, runtutan cara pikir dan kecerdasan orang-orang yang ada di tempat ini," puji Bungtilu pada acara pembukaan kontestasi sepakbola itu.
Gubernur NTT juga meminta para
atlit dan penyelenggara, untuk menjaga sportivitas permainan. Siap mengakui
kelemahan dan kekurangan, siap mengakui kemampuan dan keahlian lawan. Beliau
bahkan menegaskan, bagi tim yang membuat keributan untuk tidak ikut pada
kontestasi yang beradab seperti itu.
Lebih lanjut Laiskodat, atas nama
pemerintah dan segenap masyarakat NTT,
menyampaikan kebanggaan dan penghargaannya kepada Bupati dan seluruh
masyarakat Malaka yang telah bersedia menjadi tuan rumah kegiatan. Hal yang
sama disampaikan juga kepada semua yang terlibat.
Bupati Malaka, dr.Stefanus Bria
Seran,M.PH dalam sekapur sirihnya meminta penilaian obyektif, untuk penyelenggaraan
turnamen yang mereka buat. Ia berharap, bisa menjadi tuan rumah lagi pada
pertandingan-pertandingan lainnya.
Sementara itu Ketua Asosiasi PSSI
Provinsi NTT, Drs.Frans Lebu Raya dalam sambutannya menyebutkan sulitnya
mencetak kesebelasan yang tangguh. Kebanyakan pemain kita baru memiliki
ketrampilan individu, belum sebagai tim.
"Tahun 2020 akan diadakan Suratim Cup di Belu, 2021 di Lembata. Untuk ETMC tahun 2021 akan diselenggarakan di Flores Timur dan 2023 di Rote Ndao," sebut Frans agar dipersiapkan.
Untuk diketahui, peserta turnamen
bola se-NTT itu diikuti oleh 21 tim dari 19 Kabupaten dan 2 klub bola yaitu
Bintang Timur Atambua(BTA) bersama Putra Oesao, Kabupaten Kupang.
Event olahraga yang dibagi dalam
lima grup itu akan berlangsung selama 20 hari, hingga tanggal 24 Juli 2019.
Pertandingan akan berlangsung di tiga stadion setempat yaitu Betun, Besikama
dan Kobalima.
Usai acara pembukaan, langsung
digelar pertandingan perdana antara klub tuan rumah Malaka, berhadapan dengan
PS Kabupaten Kupang.
Ditemui di sela-sela acara,
Bernadius Mere,AP,M.Si menyebut pentingnya penyelenggaraan turanamen ini,
sebagai persiapan menuju PON.
"Orang harus tahu bahwa pembinaan itu berjenjang dan kompetisi harus
berujung. Ujungnya itu minimal ada di ajang pra Pekan Olahraga Nasional,
Oktober nanti. Karenanya, semua orang harus tahu, kalo ETMC itu adalah piala
dunianya orang NTT," begitu katanya mendukung pernyataan Bupati Malaka
dalam acara penyambutan malam tadi di Haitimuk.
Sekretaris Asosiasi PSSI Kota
Kupang itu setuju dengan statemen dr. Stef, pengurus bola haruslah orang yang
gila (cinta) bola. Bagi tuan rumah ETMC 2021 nanti, Dinus mengharapkan
kesuksesan yang lebih.
"Tuan rumah ETMC tahun berikutnya harus belajar dari suksesnya kesiapan Pemerintah Kabupaten Malaka ini. Sebagai tamu, kami diterima secara adat, dijemput dan dijamu dengan sangat baik," tambahnya.
Panitia acara mendapatkan apresiasi dari para
atlit, bahkan sejak acara gala dinner digelar malam sebelumnya. Panitia juga
dinilai sukses menghadirkan dua klub baru dalam turnamen dua tahunan itu.
Nampak hadir Ketua Komisi V DPRRI
Farie Francis, Ketua DPRD NTT, Wakil
Bupati Ende, Bupati Rote Ndao dan suami bersama Wakilnys, Wakil Bupati Kupang,
Bupati Manggarai Barat, Wakil Bupati Alor, Bupati Sumba Barat Daya dan istri,
Bupati Lembata dan istri, Pengurus Asosiasi PSSI dan KONI Provinsi,
Kota/Kabupaten se-NTT.
Pembukaan turnamen sore itu
dimeriahkan dengan suguhan tarian Bidu Lalok dan Likurai yang dibawakan
muda-mudi Malaka. Konfigurasi tarian tradisional Likurai dibuat membentuk
formasi lingkaran Olimpiade, bertuliskan ETMC 2019 Malaka.



